Konsep Pola Asuh dengan Pendekatan Nurturing Care
Pola Asuh adalah pola
interaksi antara orangtua dan anak, interaksi ini meliputi bagaimana sikap dan
perilaku orangtua saat berhubungan dengan anak.
WHO (2018) merekomendasikan pola pengasuhan anak berdasarkan pendekatan Nurturing Care. Pendekatan Nurturing Care merupakan bentuk integrasi dari 5 komponen
pengasuhan yaitu pemenuhan
kesehatan anak, pemenuhan gizi yang adekuat,
pengasuhan yang responsif, memberi kesempatan belajar (stimulasi) sejak dini, dan menjamin
keamanan serta keselamatan anak.
Pola
pengasuhan mencakup serangkaian aktivitas sehari-hari yang dilakukan oleh orang
tua atau pengasuh dalam melindungi anak, merawat, mencukupi kebutuhan, dan
mendukung pertumbuhan serta perkembangan anak
Pengasuhan
yang Responsif
Dalam
pengasuhan responsif, orang tua (ayah dan ibu) atau pengasuh perlu memahami
setiap hal atau tanda yang ingin
disampaikan anak dan meresponsnya
secara benar. Sebagai contoh pada awal kehidupan
orang tua atau pengasuh harus bisa membedakan suara tangisan bayi apakah karena mengompol, rasa haus, rasa tidak
aman, sakit, atau ingin diperhatikan. Sebelum anak dapat berbicara, interaksi antara anak dengan pengasuh diekspresikan melalui pelukan, kontak mata, senyuman, gerak tubuh, dan ucapan-ucapan
yang mungkin belum dapat dikenali atau
dipahami sepenuhnya. Interaksi
yang saling menyenangkan ini menciptakan ikatan emosional yang akan membantu anak-anak memahami dunia di
sekitar mereka dan untuk belajar memahami orang lain, pola hubungan, dan bahasa yang digunakan. Interaksi sosial ini
juga akan merangsang koneksi antar serabut saraf di
otak.
5
M Pengasuhan untuk Mendukung Tumbuh Kembang Anak
1. Merespon
Menanggapi anak dengan tepat. Anak sangat membutuhkan
respon atau tanggapan yang tepat dan benar terhadap apa yang mereka lakukan,
tanyakan, atau yang mereka ketahui. Misal: anak bertanya banyak hal saat
menonton film kartun, orang tua menjawab dengan bahasa sederhana yang mudah
dipahami anak.
2. Mencegah
Mencegah kegiatan anak agar tidak berperilaku yang
negatif atau berisiko terhadap diri anak itu sendiri. Misal, mencegah anak
untuk bermain pisau atau gunting agar anak tidak mengalami cedera
3. Memantau
Mengawasi anak berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Pengawasan
orang tua terhadap anak ini sangat penting, agar anak tidak terpengaruh pada
situasi atau lingkungan yang negatif. Misal anak bermain dengan anak lain yang
sering berkata kasar, maka orang tua terlibat dalam permainan tersebut dan
mengarahkan kedua anak untuk berkata sopan dan baik.
4. Mendampingi
Mendampingi secara aktif dalam pembentukan perilaku
anak. Misal mendampingi anak belajar mengenal huruf dan angka, orang tua bukan
hanya menyediakan mainan edukatif tapi juga mendampingi dalam permainan tersebut.
5. Menjadi
contoh
Menjadi contoh yang positif pada anak. Menjadi orang
tua dituntut untuk selalu menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Misal:
jika orang tua ingin anak tidak berkata kasar, maka dalam interaksi
sehari-hari, maka orang tua harus memberi contoh berbicara yang sopan dan baik.
Dampak Positif Pola Pengasuhan Responsif
- Meningkatkan kualitas interaksi anak dan orangtua
- Mengoptimalkan tumbuh kembang anak
- Mencegah anak dari perilaku menyimpang
- Mendeteksi kelainan pada tumbuh kembang anak
Prinsip-Prinsip Pengasuhan Positif
Tidak
menggunakan kekerasan dalam melatih
disiplin pada anak
Kekerasan yang dimaksud meliputi
kekerasan yang bersifat verbal atau lisan, maupun kekerasan fisik. Contoh: Kekerasan verbal:
Membentak, memaki, memberi label buruk seperti ‘anak nakal’. Kekerasan fisik: Memukul, mencubit, menjewer, mengurung anak
Menerapkan
ketegasan dan kelembutan
Orang tua sebaiknya tegas dan
konsisten dalam menerapkan aturan, namun
disampaikan dengan cara yang lembut dan menghargai perasaan anak. Anak akan merasa dipahami
dan dihargai jika orang tua dapat menggambarkan apa yang anak rasakan.
Contoh: “Ayah tahu kamu merasa sedih
karena masih ingin bermain, tapi ini sudah saatnya kamu mandi sore”
Menggunakan
kalimat sederhana, jelas, dan spesifik
Anak akan lebih mudah mengikuti
arahan orang tua jika kalimat yang digunakan
sederhana, jelas, dan spesifik menyebutkan apa yang diharapkan orang tua, daripada
memberikan banyak larangan.
Contoh: Mengucap “Jalannya pelan-pelan ya”
daripada “Jangan lari-lari”
Menghindari
merespon secara berlebihan pada perilaku negatif
anak
Orang tua sebaiknya tidak selalu
menghardik atau membentak setiap kali
anak melakukan kesalahan hingga tidak merespons atau kurang memperhatikan perilaku positif yang dilakukan anak.
Contoh: Membentak setiap kali mendengar anak gaduh, namun tidak pernah memuji ketika anak membantu
orang tua.
Memberikan
perhatian dan dukungan pada perilaku
positif yang dilakukan anak
Perhatian dapat diberikan dalam
bentuk ungkapan lisan, bahasa tubuh, atau
sentuhan pada anak sehingga anak semakin memahami perilaku seperti
apa yang diharapkan.
Contoh:
“Terimakasih sudah membantu Ibu
mengambilkan celana adik”
“Wah kamu pasti bangga sudah bisa tidur
sendiri sekarang”
Mengedepankan penggunaan konsekuensi natural dan logis daripada memberikan
hukuman atau hadiah
Hukuman merupakan
pemberian segala sesuatu yang tidak menyenangkan
bagi anak ketika ia melakukan hal yang tidak
seharusnya. Pemberian hukuman dapat memberi dampak negatif pada anak, diantaranya anak menjadi cenderung
menentang atau memberontak, anak
memiliki keinginan untuk belas dendam, serta
dapat membuat anak menjadi memiliki penghargaan yang buruk terhadap dirinya sendiri (contoh: Anak
berpikir bahwa ia memang anak yang nakal)
Hadiah merupakan
segala sesuatu yang menyenangkan bagi anak ketika anak dapat melakukan apa yang diminta. Pemberian hadiah dapat membuat anak menjadi fokus pada hadiah
yang didapatkan, sehingga kesadaran
pribadi akan melakukan perilaku yang diharapkan menjadi kurang. Contoh:
Memberikan permen agar anak berhenti menangis.
Konsekuensi alami adalah
apa yang terjadi secara alami tanpa adanya
intervensi dari orang tua.
Contoh: Jika anak tidak mau makan maka biarkan ia merasakan lapar terlebih
dahulu.
Konsekuensi
logis adalah konsekuensi yang masuk akal baik
bagi orang tua maupun anak, serta
berkaitan langsung dengan perilaku yang dilakukan
anak. Konsekuensi logis tidak bersifat menyalahkan, membuat anak malu, ataupun menyakiti. Contoh: Jika anak menumpahkan air minum maka ia harus
mengambil lap dan mengeringkan
lantai.
Memberikan
kesempatan pada anak untuk mengekspresikan emosinya
Beri kesempatan pada anak untuk
menyampaikan emosi yang mereka rasakan
melalui kata-kata. Apabila anak mengekspresikan emosi dengan cara menangis, tantrum, tidak mau
disentuh atau didekati maka sebaiknya
orang tua memberi kesempatan pada anak untuk terlebih dahulu meluapkan emosinya tanpa orang tua berkomentar, namun tetap mengawasi dan berada di sisi anak.
Setelah emosi anak mereda, orang tua
dapat mendekat ke anak dan menanyakan atau menggambarkan perasaan
anak. Hindari mengunci
anak di kamar mandi atau di
kamar seorang diri, atau menyiram anak dengan air dengan maksud emosi
anak tidak memanas.
Mengubah
sudut pandang mengenai perilaku anak
Hal ini dapat dilakukan dengan
mengajak orang tua untuk berusaha memahami
apa yang melatarbelakangi perilaku dan ekspresi emosi anak, serta memahami kebutuhan emosi anak. Contoh: Saat kakak sering mengganggu dan tampak
mudah marah pada adik sebaiknya
tidak semata-mata memandang bahwa
kakak ‘usil’ atau ‘nakal’, melainkan
berusaha melihat dari sudut pandang si kakak
bahwa mungkin si kakak merasa kurang mendapatkan
perhatian dari ibunya, atau kurang didengarkan saat meminta sesuatu.
Melatih
anak mengatasi konflik atau masalah
Pertama-tama beri kesempatan anak untuk menjelaskan permasalahan yang terjadi, kenali dan refleksikan perasaan anak atas permasalahan tersebut, lalu ajak anak untuk mencari alternatif solusi. Contoh: “Oh jadi tadi kakak kesal karena sedang asyik main lalu tiba-tiba adik merebut mainannya ya? Kalau begitu sekarang kita pikirkan agar kakak tetap bisa main tapi adik bisa main juga bagaimana ya?”
Cara menyikapi anak dengan kondisi emosi dan perilaku tertentu
Anak
tampak sangat mudah takut, cemas, tidak percaya diri, banyak keluhan fisik, tidur terganggu, terdapat kemunduran kemampuan
yang sudah dimiliki.
- Mengajak anak membicarakan hal yang ia cemaskan atau ia takuti
- Bimbing anak untuk tidak menghindari hal atau situasi yang ditakuti dengan mendampinginya menghadapi situasi tersebut secara bertahap
- Memberi contoh perilaku berani serta beri respons atau penghargaan ketika anak menunjukkan langkah kecil yang lebih berani dalam menghadapi ketakutannya
- Tunjukkan pada anak cara-cara yang dapat dilakukan untuk membuat diri lebih rileks dan tenang seperti memutarkan musik yang lembut, melakukan permainan yang menenangkan, relaksasi nafas dalam atau melakukan teknik butterfly hug
Relaksasi napas
dalam: Langkah-langkahnya yaitu bimbing anak
untuk menarik napas perlahan melalui
hidung hingga perut terasa mengembang, lalu menghembuskan perlahan melalui
mulut. Aktivitas bermain
seperti misalnya meniup
gelembung dapat dilakukan untuk melatih teknik ini.
Butterfly hug: Langkah-langkahnya yaitu bimbing anak untuk menyilangkan kedua tangan di depan dada, telapak tangan diletakkan di lengan atas atau di bawah tulang selangka, tutup mata kemudian tepuk-tepuk lengan secara perlahan bergantian kiri dan kanan sembari mengatur napas. Lakukan hingga kondisi anak lebih tenang.
Anak
tampak sedih dan kecewa berkepanjangan,
tidak bersemangat, menarik diri,
kehilangan nafsu makan
·
Bantu anak untuk dapat
membicarakan apa yang ia rasakan
·
Dorong dan temani anak
untuk melakukan kegiatan yang dapat membuatnya merasa senang dan bergairah misalnya kegiatan fisik
atau permainan di luar
ruangan
·
Mengupayakan agar anak tetap tidur cukup serta makan secara teratur
·
Membimbing anak
menghadapi konflik atau masalah yang menyebabkannya merasa sedih atau kecewa
Anak banyak menentang, melakukan perilaku yang menyakiti atau merusak, mudah marah, sering tantrum
- Mengajak anak membicarakan apa yang ia rasakan
- Kenali dan respons perilaku positif yang dilakukan anak
- Hindari melakukan kekerasan verbal (contoh: Membentak, memaki, memberi label buruk), maupun kekerasan fisik (contoh: Memukul, mencubit, menjewer)
- Menerapkan aturan secara tegas dan konsisten oleh seluruh anggota keluarga dan orang dewasa yang berhubungan langsung dengan anak dalam keseharian anak
- Menghindari pemberian hukuman dan menggantinya dengan penerapan konsekuensi alami dan konsekuensi logis
- etap menunjukkan ekspresi perhatian dan kasih sayang